Analisis Kecelakaan Fatal Akibat Fatigue pada Operator Alat Berat di Sektor Pertambangan dengan Pendekatan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS)

Authors

  • Aulia Erid Angelica Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
  • Baiduri Widanarko Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.70304/jmsi.v5i02.121

Keywords:

kelelahan kerja, kecelakaan alat berat, sektor pertambangan, HFACS, keselamatan kerja, fatigue risk management

Abstract

Tingginya risiko kecelakaan fatal akibat kelelahan kerja (occupational fatigue) dan micro-sleep pada operator alat berat di sektor pertambangan menuntut analisis mendalam terhadap interaksi berbagai faktor sistemik organisasi guna merumuskan kebijakan manajemen keselamatan yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab kecelakaan fatal yang melibatkan operator alat berat dengan menyoroti peran fatigue dalam konteks sistem keselamatan kerja di sektor pertambangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan menganalisis satu kasus kecelakaan fatal berdasarkan dokumen Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang terjadi pada April 2019. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) untuk mengidentifikasi faktor penyebab kecelakaan pada berbagai level sistem, mulai dari tindakan operator hingga pengaruh organisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecelakaan dipicu oleh hilangnya kewaspadaan akibat micro-sleep yang berkaitan dengan kondisi kelelahan operator. Kondisi tersebut diperburuk oleh kurangnya waktu istirahat sebelum bekerja, mekanisme pelaporan kesiapan kerja yang bersifat subjektif, kelemahan dalam pengawasan operasional, serta tidak adanya sistem manajemen kelelahan yang terstruktur dalam organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan yang berkaitan dengan fatigue tidak hanya disebabkan oleh faktor individu, tetapi juga dipengaruhi oleh kelemahan sistemik dalam pengelolaan keselamatan kerja. Oleh karena itu, pengendalian risiko kelelahan memerlukan pendekatan yang terintegrasi melalui penguatan sistem manajemen kelelahan, peningkatan kualitas supervisi, serta pengembangan budaya keselamatan yang mendukung pelaporan kondisi fatigue secara terbuka.

Downloads

Published

2026-06-15

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.